Di sudut hati seorang manusia pasti pernah terselip pemikiran bagaimana jika aku tercipta bukan sebagai aku yang sekarang?
Dan pemikiran itu pernah pula beberapa kali menggantung dalam perasaan ini, apalagi ketika melihat banyak orang di luar sana terlihat selalu bahagia. maksudku lebih kepada batin mereka yang sehat, tersenyum ceria, apapun yang terjadi di hidupnya, mereka selalu terlihat happy dan baik-baik saja.
Lalu,...ibuku berkata untuk tidak terburu-buru menilai suasana hati oranglain dari apa yang terlihat di luar saja. Jika kita melihat oranglain tertawa, bisa saja detik-detik hatinya sedang menangis, begitupun sebaliknya. aku tersadar oleh kata-katanya, aku pun ternyata seperti itu. Adakalanya saat menyedihkan dan rumitnya hati hampir selalu bisa kututupi, walau seringkali juga suasana hati yang tak baik bisa mudah terbaca.
Aku belajar dari kalimat sederhana seorang yang melahirkanku dan mungkin satu-satunya manusia yang tak pernah berhenti bersyukur karena telah melahirkanku ke dunia.
Setelah banyak lintasan pemikiran dan khayalan bagaimana jika aku terlahir sebagai oranglain atau menjadi seseorang di luar sana, aku tersadar kemudian bahwa tetap saja pada ujungnya tak ada hal yang lebih meneduhkan hati kecuali tetap mensyukuri keadaan ini. Apapun yang terjadi bisa saja jauh lebih baik jika aku memang terlahir sebagai diriku sendiri. Banyak orang yang menyemangatiku dan selalu meyakinkanku jika hidup memang seperti ini, sejak dulu ya begini.
Selalu ada masalah, kesedihan yang mendekat, kebahagiaan yang tiba-tiba datang, namun semua orang, tanpa terkecuali, pasti pernah mengalaminya. HIDUP ya begini. Aku terlahir seperti ini dan kelanjutannya akan ku hadapi walau tetap tak terprediksi.
Bener kan hidup ya emang begini?
iya bener sista...
BalasHapushidup emang begini...
bener kata ibu sista bilang, jgn pernah liat dari luarnya saja...
aku alami karena hidup emang begini... :D
hehe...siippp!!
BalasHapusthanks for ur comment
Tes
BalasHapusTes
BalasHapus